Strategi: Terkoordinir dan Masif

Hallo para pembaca sekalian, anda pasti tahu, bahwa dalam berperang pihak yang menang sering bukan karena yang paling banyak pasukannya, tetapi pihak yang melakukan strategi yang pas, dan dengan menggunakan peralatan yang lebih baik, serta semangat yang tinggi untuk mengalahkan lawan.

Perkembangan senjata sangat mendukung strategi ini, contohnya ketika teknologi panah ditemukan, kemenangan pasukan dengan panah terhadap pasukan yang hanya memakai pedang sangat mudah dicapai.

Begitu juga ketika orang Eropa masuk ke tanah Amerika, dengan mudah mereka mengalahkan penduduk di sana yang tidak memiliki senjata api dan meriam.

Ini terbukti lagi ketika teknologi pesawat terbang dengan Bom Atom mengalahkan Jepang dalam perang dunia kedua.

Akan tetapi, dalam perang peralatan yang canggih tidak akan berguna tanpa koordinasi dan tindakan yang masif, contohnya ketika Amerika kalah dari Vietnam atau Rusia terusir dari Afganistan.

Kecanggihan peralatan perang Amerika dan Rusia, tidak mampu mengalahkan koordinasi yang baik, dan aksi masif dari orang Vietnam maupun Afganistan.

loading...

Bahkan sejarah Indonesia mencatat hal yang sama ketika bangsa Indonesia mati-matian memperjuangkan Indonesia dengan bambu runcing.

Koordinasi yang baik dan aksi yang masif dapat menggetarkan bahkan membuat orang lain kocar-kacir,

Untuk melawan mereka, tidak cukup hanya dengan teknologi, tetapi koordinasi, kerjasama atau persatuan yang baik harus diutamakan.

Tanpa itu pasti pasukan kita akan gentar, tidak semangat dan kekalahan tinggal menunggu waktu.

Terkoordinir dan masif itu strateginya
Mereka bergerak tanpa muka tetapi
terkoordinasi dan masif!

Saya membawa pemikiran di atas ke suasana “perang” politik tahun 2019 yang sudah dimulai di Indonesia tahun ini.

Melihat pihak yang ingin berkuasa menggantikan pemerintah sekarang sudah bergerak jauh.

Mereka sudah mengkoordinir semua lapisan kekuatannya, dan sudah mulai melakukan gerakan-gerakan yang masif.

loading...

Dimulai dari (hastag) ganti presiden, hingga mulai muncul istilah “haram memilih pemimpin pendusta”.

Sementara pihak yang membela pemerintahan sekarang, saya lihat bergerak sendiri-sendiri (bahkan ada yang berdasarkan inisiatif pribadi rakyat di luar partai), dan ketika memperoleh gempuran seringkali terlihat mereka kehilangan percaya diri.

(Baca: Ayo siap-siap menghadapi gertak dan intimidasi politik!)

Oleh karena itu saya menghimbau semua partai dan simpatisan yang ingin mengusung kembali pemerintahan Jokowi, agar segera bersatu.

Lupakan dulu ego atau kepentingan partai dan golongan yang ada.

Ayo bersatu dan siapkan semua strategi yang seragam, dan lakukan dengan koordinasi yang baik.

Bahkan apabla mungkin dapat dilakukan dengan masif! Jangan lengah, lakukan itu bukan hanya di Media Sosial tetapi di semua area!

Sekali lagi, ayo lupakan dulu egoisme partai, bersatulah, berkoordinasi, kumpulkan semua prestasi pemerintah saat ini untuk membantah semua fitnah yang beredar.

Sampaikan semua itu dengan elegant dan menarik hati masyarakat.

Jangan lengah, mereka sudah melangkah jauh (mereka bahkan sudah melakukan berbagai hal termasuk bersandiwara menjadi korban bullying atau biasa disebut playing victim)

God bless you, God bless Indonesia
@shtobing

loading...

Add a Comment