Seleksi Karyawan Jangan Hanya Melihat Prestasi Akademik (IP)

Untuk mencapai tujuannya, yaitu terus bertumbuh dengan sehat, sebuah perusahaan harus mengidentifikasi kualitas karyawan. Identifikasi harus dimulai sejak dini, yaitu dari saat rekrutmen, salah apabila baru dilakukan setelah diangkat menjadi karyawan.

Prestasi Akademik

Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas karyawan, salah satunya adalah prestasi akademik mereka saat sekolah. Semua orang mengakui bahwa semakin tinggi prestasi akademik, maka semakin pandai sang calon karyawan, sehingga dia akan lebih mudah bekerja.

Jangan hanya melihat prestasi akademik
IP anda berapa?

Oleh karena itu banyak perusahaan yang di seleksi tahap awal mensyaratkan passing grade prestasi akademik, misalnya minimal ber Indeks Prestasi (IP) 3 dengan skala 4. Sehingga bagian rekrutmen akan langsung membuang berkas lamaran calon karyawan dengan IP < 3 (di bawah 3).

Namun apabila perusahaan hanya melihat IP, sangat terbuka risiko kelak sang karyawan tidak memenuhi ekspektasi. Bisa jadi ternyata dia sama sekali memiliki daya nalar yang rendah, dan ketelitiannya juga rendah. Sehingga menjadi masalah bagi kualitas kerjanya.

Psikotest, Test Kepribadian

Maka di setiap perusahaan besar, biasanya akan ada psikotest, test kepribadian, dan test-test lainnya untuk memperoleh karyawan dengan kualitas yang diharapkan. Akibatnya, menurut pengalaman saya passing grade IP (prestasi akademik) menjadi kurang relevan, karena sering saya temui orang dengan 2.75 memiliki kualifikasi yang tinggi dan memenuhi syarat untuk bekerja di tempat saya.

loading...

Sehingga passing grade ditambahkan variabel kualitas Perguruan Tinggi (PT). Selanjutnya calon karyawan dengan IP 2.75 dapat diproses lebih lanjut dengan syarat, berasal dari PT ternama yang memiliki standard tinggi dalam pengajaran.

Kualitas PT harus diketahui dengan baik oleh Bagian Rekrutmen, termasuk PT dari Luar Neg (LN). Karena anggapan bahwa lulusan PT LN lebih baik dari lulusan dalam negeri, adalah anggapan yang salah. Jangan sampai team rekurtmen tidak mengerti, bahwa di LN, termasuk Amerika, banyak PT yang nilainya di bawah rata-rata (bellow average).

Sisa-sisa Sikap Inlander

Jangan sampai sikap inlander, manusia jajahan, membuat orang-orang di bagian rekrutmen menganggap Lulusan LN itu lebih hebat. Ini harus dirubah, termasuk juga kalau bertemu dengan orang bule, jangan tunduk-tunduk karena mereka fasih berbahasa Inggris. Kita semua harus sadar bahwa bule juga banyak yang bodoh dan bermasalah.

Begitu juga bertemu dengan orang dari Timur Tengah contohnya, jangan sampai tunduk dengan mereka dan menganggap iman (kualitas agama) mereka lebih hebat dari kita. Bahaya bukan kalau ada orang dari Timur Tengah, tidak disukai di negaranya karena bermasalah, dan di Indonesia malah dipuja-puja.

Kembali ke topik kita. Kesalahan persepsi akan sangat berbahaya dalam merekrut karyawan. Karena apabila hanya berdasarkan prestasi akademik bisa salah, dan tidak sesuai harapan akan membuat masalah di kemudian hari.

Seringkali karyawan yang tidak sesuai di atas, yang seharusnya segera di drop, tetap diterima perusahaan. Alasannya adalah karena perusahaan sedang kekurangan karyawan, dan bagian yang membutuhkannya sudah “berteriak-teriak” kepada bagian rekrutmen.

loading...

Oleh karena itu bagian rekrutmen harus bekerja benar sejak awal. Standard Peorasional Prosedur (SOP) dan berbagai Guideline, dalam mencari karyawan berkualitas harus diperbaiki, dan dijalankan dengan baik dan direview setiap saat. Dalam Risk Management ini di kenal sebagai control action.

Salah persepsi dan merendahkan kualitas pendidikan negeri sendiri sangat berbahaya, karena kita bisa hidup dan bekerja dengan karyawan bermasalah. Yang selanjutnya, dimanapun karyawan itu ditugaskan, dia pasti tidak bisa menyumbang kinerja yang baik mendukung tujuan perusahaan.

Karyawan Bermasalah Tapi Santai (kok enak?)

Kalau perusahaan masih dapat mencapai tujuannya, maka biasanya karyawan-karyawan seperti itu diberikan ruang untuk “santai”, dan pekerjaannya dibebankan kepada karyawan yang berprestasi. Akibatnya tidak aneh kalau banyak karyawan berprestasi pindah mencari tempat yang lebih baik lagi.

Risiko semakin besar ketika karyawan bermasalah terus dipertahankan, bahkan memperoleh kenaikan golongan atau jabatan. Bukan rahasia lagi bahwa apabila orang tidak becus mengerjakan hal-hal kecil, pasti dia tidak akan becus menjalankan tugas yang lebih berat.

Risiko selanjutnya adalah, karyawan bermasalah tersebut akan menjadi contoh dan alasan, bagi karyawan lain untuk tidak memberikan performa yang terbaik. Misalnya karyawan bermasalah menjabat sebagai kepala seksi, pasti manager, atasannya akan memiliki masalah membalans pekerjaan dan kualitas dari setiap kepala seksi di bawah dia.

Apabila jabatan orang bermasalah semakin tinggi, maka risiko juga semakin tinggi. apalagi bila dia diberikan wewenang pengeluaran uang, maka setiap sat kesalahan bisa terjadi dan menjadi masalh yang semakin rumit.

Mengapa Mereka Tetap Ada?

Bertahannya karyawan bermasalah seperti di atas saya perhatikan ada beberapa faktor, dan faktor yang sering saya temui adalah:

  1. Karyawan tersebut anak/keponakan/kerabat/ termasuk keluarga dari rekanan bisnis, perusahaan.
  2. Karyawan tersebut pandai menjilat, membuat atasannya senang. Dan dia mampu menjalankan perannya dengan baik walau atasannya berganti.

Kedua faktor di atas sangatlah berbahaya terhadap pencapaian tujuan perusahaan. Kita dengan mudah menemukan berbagai perusahaan yang gulung tikar, karena dikelola dengan dasar pertemanan atau kroni, bukan atas dasar profesionalisme.

Menurut saya pemikiran ini juga perlu diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia, sehingga tidak sembarangan memilih wakilnya di DPR/DPD dan Pemerintahan. Jangan terpesona dengan IP semata, karena buat apa IP sangat tinggi, bahkan mencapai “Summa Cum Laude”, yang berarti semua nilainya A. Tetapi sifatnya buruk dan sama sekali tidak punya prestasi lain karena tidak bisa bekerja.

Wakil Rakyat Anda Kualitasnya Bagaimana?

Ada seorang wakil rakyat yang sedang memamerkan wisudnya di SMA Texas, dan dengan sombongnya dia bangga karena prestasi akademiknya masuk kategori “Summa Cum Laude”.

loading...

Kalau orang yang tidak mengerti akan angat topi dan salut, tetapi bagi saya yang terbiasa melakukan seleksi karyawan, saya langsung cek SMA tersebut di Amerika. Hasilnya, SMA tersebut bellow average dibandingkan dengan SMA lain di kota tersebut.

Berarti nilai dia yang disombongkan itu lebih baik karena murid-murid di sana memang bodoh-bodoh. Apa yang mau dibanggakan menjadi orang paling pandai dari kumpulan orang bodoh? Mungkin sebagian dari anda akan mengatakan, tapi semua nilainya A sehingga dia dapat Summa Cum Laude.

Distribusi Normal Menentukan Huruf Mutu IP

Nah saya akan jelaskan sistem penilaian mencari huruf mutu yang bisa dipraktekan di sekolah-sekola Amerika. Bahkan karena Dekan saya yang bertanggung jawab atas Mata Kuliah Statistika adalah PhD Amerika, maka beberapa kali ia menggunakan metoda itu untuk menentukan batasan huruf mutu. Yaitu menggunakan Distribusi Normal.

Sebaran normal untuk mencari huruf nilai akademik
Gambar Grafik Sebaran Normal, hijau rata-
ratanya lebih ke kiri dari merah, biru dan kuning
loading...

Jadi kumpulan nilai hasil ujian suatu mata kuliah, akan dilihat distribusi normalnya, dan dari sana ditentukan berapa angka untuk memperoleh huruf mutu A dan berapa yang tidak lulus (E). Jadi di sini A dan E bukan diperoleh dari angka sesuai patokan awal, misalnya >80 A dan <50 E. Tidak seperti itu.

Tetapi berada dimana kumpulan distribusi normalnya, kalau rata-ratanya di 40 dan terdistirbusi normal di sekitar itu, maka mahasiswa dengan nilai 60 bisa memperoleh nilai A, sedangkan mahasiswa dengan nilai 40 masih lulus serta memperoleh nilai C (ini hanya misal karena ada perhitungannya).

Bayangkan kalau tidak metode distribusi normal tidak digunakan, maka nilai tertinggi hanya C (60) dan sebagian besar mahasiswa tidak lulus mata kuliah tersebut.

Terpandai Dari Kumpulan Orang Bodoh

Jadi kalau hal tersebut sah dilakukan di PT maka pasti sah juga dilakukan di SMA. Dan nilai A di SMA tersebut pasti hanya memperoleh C di SMA lain yang lebih baik, yang nilai rata-rata muridnya serta distribusi normalnya lebih tinggi. Jelas kan? Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan wisuda SMA Summa Cum Laude walaupun itu di Amerika!.

Rakyat Indonesia harus sadar itu. Dan setelah sadar, silahkan lihat kualitasnya. Bagi saya dia hanya seorang yang sedang jengkel dan cemburu dan tidak suka pemerintahan sekarang berhasil membuat rakyat sejahtera. Tidak ada perkataan dan anlisanya yang berkualitas. Jangan dipilih lagi, karena dia meningkatkan risiko ketenangan bangsa Indonesia.

Kembali ke topik utama, sekali lagi saya ingatkan agar kualitas karyawan harus dimulai dari proses seleksi. Jangan salah membuat SOP dan guidelines, serta jangan salah berpersepsi karena sanga kandidat lulusan luar negeri dengan IP yang wah. Dengan demikian risiko perusahaan akibat kualitas karyawan yang bermasalah dapat dikontrol dengan baik.

God bless you, God bless Indonesia.

@shtobing

Add a Comment