RUPIAH, US$, HARGA BERAS, TELOR AYAM DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Hallo para pembaca sekalian, pagi ini saya membaca tulisan yang saya rasa sangat penting untuk kita sebarkan, karena saya lihat tulisan ini cukup sederhana, sesuai dengan logika serta berdasarkan data dan fakta. Dengan menyebarkan tulisan ini saya mengharapkan rakyat Indonesia semakin kritis dan tidak mudah percaya pada politkus-politikus busuk, baik yang tampil sebagai pemuka agama atau sebagai seorang akademisi dan ahli ekonomi.

Selain itu saya terdorong untuk terus mengajak rakyat Indonesia semakin kritis dan cerdas, apalagi saya merasakan sendiri beberapa rekan-rekan dan family saya yang berpendidikan (hingga S2 dan S3) tetapi sudah teracuni oleh perkataan-perkataan politikus busuk. Sehingga dengan mudahnya rekan-rekan saya itu menyebut “Pemerintah Goblok”, “Mentri Ngawur”, “Presiden Gagap”, “Presiden Nggak Mudeng”, dan segala istilah kasar yang menurut saya tidak pantas disebutkan seorang yang berpendidikan kepada pemerintahan sekarang ini.

Tapi saya maklum bahwa mereka itu korban-korban politikus busuk, sehingga hanya dengan tulisan-tulisan yang sederhana dan masuk logika saja mereka pelan-pelan akan mengerti.Amin!

Baca:
– Polikus yang mengejar KEKUASAAN hanya bisa Memelintir Berita
– Hati-hati jangan Jadi Korban Hoax Politikus

loading...

Silahkan baca dan cermati tulisan berikut:


DOLLAR, UMR DAN BERAS JELANG REFORMASI DAN ERA JOKOWI

Beberapa waktu terakhir banyak orang membandingkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar sudah menyamai kegentingan seperti 20 tahun lalu menjelang reformasi. Mereka meng-identikan situasi ekonomi yang sama darurat nya dengan situasi di jelang kejatuhan Soeharto.

Apakah benar demikian? Mari kita bandingkan data data nya antara Dollar, Upah Minimum Rata-Rata (UMR) dan harga beras.

loading...

Pertama, Nilai Dollar dan UMR :
Nilai tukar Dollar di akhir Agustus 1997 berada di kisaran 1 USD senilai Rp 2.500,-. Sementara pada saat yang sama, UMR (Upah Minumum Regional) DKI di tetapkan Rp 172.500 per bulan atau sekitar 69 USD per bulan.

Dalam waktu tidak lebih dari 10 bulan dari jelang akhir Agustus 1997 hingga rentang Januari – Juli 1998 nilai tukar Dollar merayap naik lalu melonjak mendekati Rp 16,800-. Di saat Dollar menyentuh Rp 16.800 itu UMR DKI ada di angka Rp 192.000 per bulan atau satu bulan UMR setara dengan 11,4 USD.

Dari 1997 ke 1998 kenaikan UMR hanya Rp 20.000 atau sekitar 13% sementara kenaikan nilai Dollar mencapai 600%

Berdasar data itu maka turunnya daya beli masyarakat saat jelang Reformasi memang sangat tajam. UMR 1997 yang setara dengan 69 USD di tahun 1998 terjun bebas menjadi setara dengan 11,4 USD. Situasi ini di sisi lain juga membuat banyak perusahaan yang gulung tikar diikuti PHK massal.

Sekarang kita bandingkan dengan situasi hari ini di era pemerintahan Jokowi. Pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden, Oktober 2014 nilai tukar Dollar berada di kisaran Rp 12.200,- pada saat yang sama UMR DKI berada di angka Rp 2.441.000 per bulan. Artinya di bulan Oktober 2014 UMR DKI setara dengan 200 USD.

Penyesatan dan Fitnah dengan menyamakan kondisi Indonesia saat ini dengan tahun 1998 hanya karena USD=Rp. 14.400

Hari ini Juli 2018 nilai tukar Dollar ada di kisaran Rp 14.400,- sementara UMR DKI Rp.3.648.000 per bulan atau setara dengan 253 USD.

loading...

Dari Oktober 2014 hingga Juli 2018 Dollar merayap naik Rp 2.200 atau sekitar 18% sementara kenaikan UMR DKI dari Rp 2.441.000 menjadi Rp 3.648.000 atau naik sekitar Rp 1.200.000,- yaitu sekitar 49% dari Oktober 2014.

Perbandingan kurs Dollar dengan UMR saat ini menunjukan bahwa naik nya kurs Dollar sebesar 18% tidak berdampak pada daya beli seperti pada situasi Mei – Juli 1998 dikarenakan pada kurun waktu yang sama saat ini UMR justeru mengalami kenaikan 49%. Jika di konversi dengan Dollar maka dari tahun 2014 hingga 2018 UMR naik 26% dari 200 USD menjadi 253 USD.

Jika di bandingkan dengan nilai tukar Dollar dan UMR pada Mei – Juli 1998 maka situasi nya tentu jauh berbeda karena UMR Mei – Juli 1998 setara dengan 11,4 USD sementara dengan nilai tukar Dollar hari ini UMR setara dengan 253 Dollar artinya daya beli Rakyat jika menggunakan UMR sebagai alat ukur justeru lebih besar 23 kali lipat dari Mei – Juli 1998.

Kedua, UMR dan Harga Beras
Mari kita bandingkan daya beli Masyarakat tahun 1998 dan hari ini dengan menggunakan perbandingan UMR dan harga Beras. Pada Juli 1998 besaran UMR Rp 192.000 per bulan. Harga beras medium saat itu Rp 2800 per kilogram. Artinya pada saat itu Rakyat dengan UMR nya hanya dapat membeli 69 kg beras perbulan.

Saat ini UMR Rp 3.648.000 per bulan sementara Harga beras Medium sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) berada di kisaran Rp 9.500 hingga Rp 10.000 per kg. Dengan demikian saat ini setiap bulan Rakyat bisa membeli 364 kg beras hingga 384 kg beras per bulan.

Jika dibandingkan kemampuan Rakyat membeli beras tahun 1998 dan saat ini maka kemampuan membeli beras naik dari 69 kg menjadi 384 kg per bulan atau naik sekitar 315 kg lebih banyak per bulan. Peningkatan ini hampir 6 kali lipat dari tahun 1998.

loading...

Dari perbandingan perbandingan tersebut di atas maka tentu tidak tepat jika nilai tukar Dollar hari ini yang berada di kisaran Rp 14.400 di samakan dengan kegentingan ekonomi yang sama dengan tahun 1998.

Hanya ada dua kemungkinan kenapa ada ada orang orang yang menyamakan nilai tukar Dollar hari ini sudah segenting 20 tahun lalu. Pertama mereka itu hanya melihat angka Dollar tapi tidak mengetahui angka angka lainnya termasuk UMR artinya data yang di miliki orang orang itu sangat minim sementara nafsu bicara mereka sangat besar.


Kedua, mereka paham data data tersebut di atas tapi mereka mencoba mendramatisir situasi seolah menakutkan dan berbahaya. Opini itu di desain untuk tujuan politik.

Lindungi diri anda dan keluarga serta rekan anda dari Politikus Busuk

Desainer opini bermotif politik itu tentu berharap Rakyat percaya bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar di pemerintahan Jokowi seolah olah sedang berada dalam situasi yang persis sama dengan situasi 20 tahun lalu.

loading...

19 – Juli – 2018
Salam Hormat
Adian Napitupulu, Anggota DPR RI FPDI Perjuangan, Dapil Jabar V – Kab Bogor.


Semoga tulisan di atas semakin membuka pikiran kita untuk terus berhati-hati dengan perkataan politikus busuk, kecuali anda adalah politikus busuk. Para politikus busuk pasti langsung menyiapkan tulisan sebagai counter dengan logika terbalik-balik dan tanpa data, misalnya mengulang pernyataan “tapi kenyataannya rakyat makin susah” padahal dari dulu orang yang malas pasti susah hidupnya, dan kemudian para politikus busuk menampilkan foto meme orang gila dengan tulisan “gila menjadi gila di zaman Jokowi”, padahal orang gila seperti itu dari dulu memang sudah banyak.

Baca:
– Terus doakan Indonesia untuk Kesejahteraan Bangsa
– Hukuam berat pembuat dan penyebar fitnah!

Ayo bangsa Indonesia terus belajar agar semakin cerdas dan kritis.
God bless you, God bless Indonesia
@shtobing

Add a Comment