Risk Appetite dan Risk Tolerances (Manajemen Risiko)

Jangan ambil risiko yang tidak masuk dalam tolerance dan appetite anda

Hallo para pembaca sekalian, kali ini saya ingin sharing kepada anda apa itu Risk Appetite dan Risk Tolerance berserta sedikit ilustrasinya agar anda bisa mengerti.

Topik ini di Indonesia masih jarang didiskusikan, karena banyak Direksi-Direksi perusahaan yang malas mengerti hal ini.

Banyak dari anggota Direksi perusahaan yang merasa bahwa Risk Management itu hanya membuang-buang uang dan merepotkan saja.

Karena segala sesuatu yang “ditakutkan” oleh Risk Manager itu belum tentu terjadi, jadi buat apa berjaga-jaga pada yang belum terjadi?

Sikap di atas masih terus berlangsung hingga sat ini, sehingga tidak heran kalau di sebuah perusahaan, bahkan perusahaan besar, staf yang in-charge di Risk Management dibuat seperti orang nomor dua.

Misalnya diduakan kesejahteraannya, sistem renumerasi bahkan kesempatan belajar, misalnya bila dibandingkan staf teknik, marketing dan keuangan.

loading...

Tapi bagi kita penggemar Manajemen Risiko dan suka menerapkannya di manapun kita berada, pasti sangat mengerti dan merasakan manfaat pentingnya.

Pengertian dan contoh sederhana Risk Appetite dan Risk Tolerance.

Risk Appetite atau yang berarti sebagai selera risiko, adalah risiko-risiko apa saja yang kita ingin ambil supaya “tujuan, target atau rencana” kita tercapai.

Misalnya, terhadap risiko yang ada dan bisa terjadi ketika kita ingin menuju kantor tepat waktu, sehingga menggagalkan kita menuju kantor, ada risiko:

  • kecelakaan kendaraan (kalau naik kendaraan),
  • ditabrak (kalau jalan kaki),
  • terlambat tiba di kantor (kalau berjalan kaki) dan
  • tertinggal kendaraan umum.

Atas berbagai risiko-risiko tersebut mana yang anda sukai, atau anda pilih, untuk memastikan anda sampai di kantor tepat waktu?

Bila dari risiko yang anda pilih tersebut, misalnya berangkat ke kantor dengan kendaraan pribadi, anda tetap mengalami kecelakaan dan terlambat sampai ke kantor, berapa lama toleransi yang masih dapat anda tanggung?

Misalnya kendaraan anda yang celaka, anda masih dapat menanggung biaya perbaikan hingga Rp. 5 juta, maka bila terjadi selebihnya anda harus mencari perlindungan lain, misalnya Asuransi.

loading...

Kalau yang dialami hanya keterlambatan, berapa lama toleransi keterlambatan yang diijinkan perusahaan?

Misalnya peraturan perusahaan menyebutkan maksimal keseluruhan dalam 1 minggu adalah 1 jam, maka kalau lebih anda akan dapat Surat Peringatan (SP).

Apakah anda dapat menolerir keterlambatan itu?

Kalau tidak maka anda harus memiliki Kontigensi Plan, misalnya kalau sampai terjadi kecelakaan anda langsung mencari Ojeg motor, supaya tidak terlambat.

Gambaran di atas mudah-mudahan dapat anda mengerti.

Contoh Sederhana di Perusahaan

Contoh sederhana berikut adalah untuk perusahaan, misalnya perusahaan mengembangkan dananya dengan cara investasi.

Apabila perusahaan ingin selalu aman maka ia akan membeli reksadana daripada saham (Risk Appetite).

Tetapi hasil dari reksadana dalam 1 tahun hanya sedikit di atas deposito, maka untuk mendapat hasil yang lebih baik, perusahaan harus membeli dari pasar saham, tentunya lebih berisiko.

Misalnya setelah dihitung, berdasarkan regulasi atau kebijakan perusahaan toleransi diijinkan <10% dari aset investasi.

Kebijakan dan regulasi itu pasti disusun, dengan pertimbangan apabila terjadi pasar saham turun, jumlah loss dari 10% aset investasi masih dapat diserap (Risk Tolerace) perusahaan.

loading...

Maka perusahaan dapat menginvestasikannya di pasar saham. Tetapi tetap harus dibuat kebijakan bagaimana pengelolaannya.

Ingat Risk Tolerance 10% dari aset investasi, bukan berarti perusahaan boleh dengan mudah kehilangan aset investasi sebesar 10%!

loading...
loading…


Pages ( 1 of 2 ): 1 2Next »

Add a Comment