Kontrol Risiko Dengan Baik!


Pernah dengar ungkapan sesuai judul di atas? Atau mungkin anda sendiri pernah mengatakannya: ITU MAH RISIKO LU!

Ungkapan itu biasanya disampaikan kepada teman, biasanya karena sang teman mencoba-coba makan makanan yang belum diketahui mutunya dan anda sudah memperingatkan, tetapi teman itu membandel sehingga setelah makan ia sakit perut.

kontrol risiko

Ketika ia mengeluh dan ingin menyalahkan orang lain, kadang anda akan menegor dia dengan istilah di atas: “ITU MAH RISIKO LU!” dan diikuti dengan kata: jangan nyalahin orang lain atuh…


Nah kalau anda pernah mengalami hal itu pastilah anda mengerti apa itu RISIKO? Arti gampangnya dari kata RISIKO adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan kekecewaan.

loading...

Kecewa ditinggalkan orang yang dicintai, kecewa karena jadi sakit perut, kecewa karena kendaraan yang disayangi rusak tertabrak, kecewa karena pabrik satu-satunya roboh karena gempa bumi, kecewa karena saham yang dibeli anjlok 30%, dan kekecewaan lainnya…. Hehehehe tapi apa memang bener itu adalah artinya RISIKO?

RISIKO
Kalau kita baca alinea pembuka tadi, maka pengertian risiko bisa sangat luas, yang penting segala sesuatu yang bisa menimbulkan kekecewaaan. Nah untuk membuat sharing ini lebih fokus dan tidak melebar ke mana-mana.

Maka di tulisan ini pengertian Risiko kita batasi pada hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian keuangan, sehingga kita bisa mengidentifikasikan atau memilah-milah risiko, apakah mengakibatkan kerugian keuangan kecil, apakah kerugian keuangan besar atau bahkan tak terkendali atau Katastrop (Catastrophe)

Memang besar atau kecilnya kerugian keuangan bisa berbeda-beda antar orang, bisa jadi bagi seseorang sebuah kerugian keuangan dianggap kecil tetapi oleh orang lain dianggap sangat besar.

loading...

Hal ini disebabkan kondisi keuangan masing-masing orang berbeda, untuk saya kerugian Rp.1.000.000,- sudah membuat darah tinggi naik, sedangkan nilai Rp.1.000.000,- bagi seorang konglomerat itu sangat kecil, tetapi bagi beberapa orang lain nilai Rp. 1.000.000,- bisa membuat orang tersebut menjadi gila.

kontrol risiko
Tidak semua orang tahan makan Lobster,
risiko alergi dan kolesterol
loading...

Nah perbedaan itu menunjukan toleransi seseorang terhadap sebuah kerugian berbeda dengan orang lain. Untuk orang yang kaya raya maka nilai Rp. 1.000.000,- sangat tidak berarti (recehan) sehingga toleransinya terhadap Rp.1.000.000,- tinggi, mungkin apabila terjadi kerugian misalnya Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar) baru dia merasakan atau mempermasalahkan kerugian itu.

Sedangkan orang yang menjadi gila akibat kerugian Rp. 1.000.000,- berarti toleransinya terhadap risiko sejumlah itu adalah sangat rendah, mungkin dia bisa mentolerir bila terjadi kerugian sebesar Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) saja.

Nah apa hubungannya dengan gambar lobster di samping ini? Ya, sebagaimana tulisan di caption foto, ada risiko alergi dan kolesterol. Bagi yang alergi memakan lobster (udang sejenisnya) pasti dia tidak mau makan lobster, karena akibatnya sangat buruk, apakah hanya berupa gatal-gatal atau bahkan pembengkakak yang sangat tidak nyaman bisa di alami oleh orang yang alergi.

Jadi orang yang toleransinya rendah terhadap zat yang dikandung lobster, sehingga dapat mengakibatkan alergi akan menjauhi lobster (dan udang sejenisnya), kalau tidak ia akan mengalami kerugian keuangan karena harus pergi ke dokter dan diobati selain itu akibat alergi dapat mengganggu aktivitas seseorang, nah bagaimana kalau akibat tidak menjalankan aktivitas tersebut dia di denda? atau kehilangan pendapatan?

Begitu juga kolesterol, karena udang-udangan termasuk yang mengandung kolesterol jahat tinggi, sehingga ada risiko sakit baki yang mengkonsumsinya. Akibatnya kalau dipaksakan ya risiko keluar uang untuk dokter dan bisa terjadi kerugian lain sebagaimana risiko alergi di atas.

loading...

MANAJEMEN RISIKO

kontrol risiko
Risiko naik pesawat?

Untuk risiko naik pesawat bagaimana? Kira-kira apa kemungkinan yang terburuk naik pesawat? Ya, benar kemungkinan yang terburuk adalah pesawat jatuh atau terbakar atau meledak sehingga penumpangnya meninggal dunia.

Hiiiii serem ya….lalu bagaimana caranya kita agar tidak mengalami hal itu?

Pertanyaannya berat sekali, karena tidak ada risiko yang bisa hilang 100%, untuk risiko pesawat jatuh bisa saja menimpa orang yang tidak sedang berada di pesawat, tetapi orang yang ada di daratan karena tertimpa pesawat jatuh… 🙁

Tapi yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir kemungkinan terjadinya risiko. Untuk risiko naik pesawat, bisa kita lakukan dengan beberapa action, seperti: Pilih Maskapai Penerbangan yang bonafid, dan rajin maintenance dan tidak memakai armada pesawat tua.

Secara teknis pesawat yang lulus uji kelayakan terbang itu sangat aman, tetapi penerbangnya kan manusia juga, jadi ada kemungkinan kecelakaan bukan akibat kualitas pesawat tapi karena kelalaian awak kapal, nah Maskapai yang bonafid pasti selalu mengawasi penerbangnya, tidak seperti penerbang yang ketahuan sedang teler and fly karena narkoba beberapa waktu lalu, padahal dia mau menerbangkan pesawat.

loading...

Kecelakaan karena pesawat bertabrakan atau bersenggolan atau kecelakaan lain secara statistik adalah sangat rendah, bahkan sebenarnya kecelakaan kendaraan bermotor di jalan raya lebih tinggi daripada kecelakaan pesawat terbang.

Dalam training awak pesawat kadang-kadang ada pelatih yang mengatakan: “kemungkinan awak pesawat kecelakaan di darat lebih besar daripada selama mereka di dalam pesawat yang sedang terbang”.

kontrol risiko
Risiko Kembang Api!

Contoh risiko lain yang saya lampirkan fotonya adalah risiko ketika kita menonton atraksi yang melibatkan kegiatan berbahaya, misalnya pembakaran kembang api.

Risikonya adalah bila terjadi pembakaran kembang api yang tidak terkontrol dengan baik, maka kembang api bisa terbang ke berbagai arah dan membakar semua benda di sekitarnya.

loading...

Nah salah satu cara kita untuk meminimise terbakar karena kembang api adalah? Ya benar, ambil jarak yang cukup jauh dan tonton dari jauh, sehingga dengan jarak yang cukup jauh walaupun terjadi peristiwa kembang api terbang mengarah ke kita.

Kita dapat menghindarinya, tapi tetap harus hati-hati selain bahaya terbakar kembang api, kerumunan peonton juga bisa membahayakan kita, nah coba di reka-reka risiko apa yang meningkat di kerumunan penonton selain risiko kecopetan?.

Waduh kalau begitu di mana-mana ada risiko ya? Nah untuk menghindarinya 100% bagaimana dong? ada caranya, jangan ke mana-mana di rumah saja, tapi jangan senang dulu karena tinggal di rumah juga ada risiko yang dekat dengan kita, misalnya risiko kesetrum listrik, risiko terbakar api kompor dan sebagainya.

Jadi memang selama kita hidup sebenarnya kita selalu memiliki peluang mengalani terjadinya berbagai risiko terhadap diri kita, tinggal bagaimana kita menghadapinya sehingga pabila terjadi masih di dalam toleransi kita, nah itu lah Manajemen Risiko atau PENGELOLAAN RISIKO.

Nah tulisan ini sudah di edit dan bertambah gambar dan alinea baru…nanti kita lanjutkan di postingan yang lain ya biar tidak terlalu panjang…

@shtobing

Add a Comment