Putus Nyambung, Internet Service Provider (ISP) Overload?

Saya sangat jengkel, karena jaringan internet di rumah dipakai oleh beberapa orang. Saya untuk bekerja, anak pertama saya mengajar dan sering mengikuti seminar-seminar dan anak kedua saya masih kuliah. 

Mengetahui saya jengkel, langsung sang Customer Service menawarkan kunjungan teknisi.

Teknisi: Kondisi Peralatan di Rumah Semua Baik

Kunjungan teknisi yang ditawarkan awalnya saya terima, walau terpaksa karena dalam kondisi pandemi sangat beresiko menerima orang asing.

Ketika sang teknisi datang, dan datangnya terlambat walau saat itu tidak permasalahkan. Sang teknisi hanya melakukan re-start, lalu menguji speed internet di rumah, dan dia bilang semua OK dengan speed internet saya waktu itu lebih dari 20 MBps.

loading...

Karena teknisi hanya melakukan uji seperti itu, saya tanya mengapa dia tidak melakukan pengecekan peralatan terkait, termasuk router wifi di rumah saya? Dia menjelaskan dari hasil pengecekannya, tidak ada masalah dengan peralatan yang ada. Termasuk jaringan kabel yang menuju rumah. Karena semua peralatan terkait sangat sensitif, apabila ada masalah langsung terlihat bahkan pasti tidak dapat dipakai lagi.

Selanjutnya saya tanyakan apakah ada masalah sejenis seperti yang saya alami, internet putus nyambung beberapa menit. Dia dengan entengnya berkata “SERING”, terutama sejak pandemi ini. Karena sangat banyak sambungan baru dari orang-orang yang work from home (WFH) ataupun yang belajar dari rumah.

Putus Nyambung Karena Overload?

Performance speed tidak terlalu hebat tidak apa-apa asal stabil! (Sumber: Steam)

Awalnya saya tidak mengerti apa dampak sambungan baru dengan internet putus nyambung tidak jelas ini. Ketika sang teknisi sampaikan karena mengakibatkan overload, saya langsung sanggah kalau overload mungkin hanya menurunkan speed. Sementara di 1 MBps sebenarnya untuk mengajar dan bekerja masih mencukupi.

loading...

Lalu sang teknis menyampaikan, bahwa overload bukan hanya di jaringan tetapi di server. Dia, sang teknisi, bercerita pernah melakukan test saat kondisi putus dan terbukti IP sang ISP tidak terdeteksi.

Terus terang saya tidak mengerti beberapa istilah yang disampaikan, tetapi langsung teringat mengapa kalau ada masalah customer service menyarankan untuk restart. Dengan restart mungkin akan dapat mengambil alih koneksi pengguna lain yang tidak melakukan restart.

Nalar awam saya berkesimpulan: wajar kalau saat overload (di saat semua pelanggan menggunakan internet), maka koneksi internet akan terganggu beberapa menit. Akibatnya beberapa pelanggan akan menghentikan penggunaan internet, sehingga loading turun dan berjalan lancar kembali. Dan hal tersebut akan terulang lagi beberapa saat kemudian bila semua pelanggan kembali menggunakan internet.

Dapat Diskon Setahun

Melihat kondisi seperti itu, saya langsung menghubungi ISP untuk mengganti paket dengan speed yang lebih rendah (Saya tidak mempermasalahkan overload, karena saya awam dan tidak punya data). Pertimbangan saya selisih harganya akan saya pakai untuk membeli paket data handphone saya. Untuk backup bila terjadi lagi putus nyambung saya akan menggunakan tethering dari handphone.

Sang provider panik dan mengatakan paket tidak usah ganti (turun), tapi akan diberikan potongan harga hingga 25% selama 1 (satu) tahun. Karena dengan diskon 20% tersebut setara dengan Rp. 200 ribu, maka saya terima karena cukup untuk beli paket data unlimited (speed relatif lebih rendah).

Para pembaca yang mengalami hal yang sama silahkan coba, turunkan ke paket yang lebih murah atau lumayan bila dapat diskon 25% setahun. Untuk beli paket data backup.

loading...

Namun sebulan terakhir, masalah putus nyambung terjadi lagi. Dan parahnya putus nyambung juga terjadi pada backup paket data yang saya gunakan. Walau tidak bersamaan, seperti pagi hari ini ketika ISP bermasalah paket data saya masih bekerja dengan baik sekitar 2 jam.

Putus Nyambung Dialami Semua Pelanggan

Putus nyambung internet terjadi terus, sehingga saya sering switch ke paket data, dan kembali lagi bila sudah stabil. Terus terang kenapa saya belum cerai dengan ISP terkait, karena memang dari keluhan keluarga dan teman, ternyata ISP lainnya sama saja (khusus ISP yang memiliki jaringan ke komplek perumahan saya). Katanya ada ISP yang lebih bagus tetapi sayangnya belum masuk komplek saya.

Saya yakin, selain teman dan keluarga saya, banyak pelanggan yang jengkel dengan kelakuan putus nyambung koneksi internet ini. Dan yang lebih menjengkelkan apabila memang benar karena overload. Menurut saya hal ini bisa disamakan dengan menjual jaringan bodong kepada pelanggan. Sangat tidak ber-etika.

Sebulan terakhir gangguan terus datang, namun saya tidak bosan komplain ke customer service ISP terkait. Dan jawabnya sama, restart atau janji kirim teknisi kalau komplain saya sudah sangat keras. Atau kadang mereka menyalakan kualitas router di rumah saya, sungguh keterlaluan. 

Sebenarnya kasihan petugas customer service, mereka jadi bumper para pengusaha yang tidak berusaha memenuhi kewajibannya. Namun saya harus terus komplain dengan harapan akhirnya akan ditindaklanjuti oleh sang pengusaha.

Etika Dalam Berbisnis, Kalau Tidak: Haram!

Saya sengaja tidak menulis nama ISP terkait, karena bukan ahli hukum dan was-was mengingat pengalaman seorang wanita, yang dituduh mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit karena mengeluh di media masa.

loading...

Mudah-mudahan ada ahli Information technology (IT) atau regulator atau pihak berwajib yang menbaca tulisan saya ini, dan tergerak untuk melakukan investigasi apakah benar menjual layanan bodong karena melebihi kapasitasnya (overload).

Bagi para pengusaha yang memang melakukan praktek nakal seperti ini, bukan hanya Internet Service Provider (ISP) saja, yang mengeruk keuntungan tanpa etika, sebaiknya anda segera insaf dan kembali ke jalan yang benar. Ingat uang yang anda dapat dengan cara itu adalah uang haram! 

Have a nice day.

God bless you, God bless Indonesia.

loading...

@shtobing

Add a Comment