NDESO is KAMPUNGAN

Orang Kampung belum tentu Ndeso atau Kampungan

KAMPUNGAN = NDESO
NDESO = KAMPUNGAN

Beberapa minggu lalu ada orang yang tersinggung dengan ucapan “Ndeso” yang dia dengar dari Vlog (kalau gak salah kepanjangan dari Video Blog ya?) milik Kaesang, kemudian dengan menambahkan tuduhan penghinaan terhadap orang Kampung/Desa maka orang itu melaporkan Kaesang ke Polisi di daerah Bekasi.

Akibatnya istilah Ndeso dan dengan segala hal-hal yang dikaitkan dengannya muncul menjadi viral di Media Masa.

Ada yang sekedar menjadikannya bahan candaan, ada yang sedikit serius mencoba menenangkan.

loading...

Seperti biasa ada yang memancing di air eruh, mengambil kesempatan untuk membuat meme yang menjelekan lawan politiknya.

Saya juga ikut-ikutan, tetapi dengan mencari arti istilah Ndeso yang bisa dipertanggungjawabkan, karena dari sumber resmi, yaitu:

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Di KBBI istilah Ndeso saya temukan dalam bahasa Indonesianya, yaitu Kampungan.

Selanjutnya di sana disebutkan bahwa Kampungan/Ndeso itu adalah istilah KIASAN, yang singkat artinya adalah menunjuk pada orang yang “kurang pendidikan”, “kolot”, dan sebagainya (untuk lebih jelasnya silahkan baca sendiri KBBI ya…).

loading...

Di tulisan saya kali ini saya tergelitik untuk beropini tentang sumber dari kata Kampungan atau Ndeso tadi, pasti dengan mudah kita semua setuju kata dasarnya adalah Kampung.

Nah mengapa seseorang bisa dikiaskan (maaf kalau tulisan kiaskan salah, tapi kita ngertilah ya…hehehe) sebagai Kampungan?

Menurut saya pasti karena hal-hal yang terjadi dan ada di Kampung, jadi saya coba mencurahkan sebagian pikiran saya sebagai berikut:

Desa/Kampung Yang Jauh Dari Kota

Di Kampung yang jauh dari kota (supaya membedakan daerah di Jakarta seperti Kampung Sawah, Kampung Melayu, Kampung Rambutan, dan sebagainya).

Biasanya apabila ada sukuran, ada rejeki atau ada panen atau ada kegiatan menanam dan sebagainya, penduduk akan meminta bantuan tetangganya.

Hal ini karena orang di kampung tidak banyak, dan biasanya semua penduduk punya hubungan kekeluargaan, atau paling tidak teman dekat karena sudah bertahun-tahun bersama-sama.

loading...

Sehingga kalau ada pekerjaan di kerjakan bersama-sama dan hasilnya dibagi bersama.

Tidak melihat skill, yang penting mau kerja, dan setelah itu semua merasakan hasilnya bersama.

Pertimbangan Kekerabatan Di Kampung bukan berarti Nepotisme

Jadi semua dikerjakan atas pertimbangan kekerabatan, dan ini bukan Nepotisme.

Kalau ada aturan seperti itu di desa malah jadi aneh, dan mungkin tidak ada pekerjaan yang selesai.

Pekerjaan di kampung juga tidak memiliki kompleksitas yang tinggi, sehingga tidak memerlukan skill yang khusus dan hebat.

Jadi mengerjakan bersama-sama di sini, tanpa tender, bukan berarti orang di kampung melanggar aturan (Nepotisme, Monopoli, Ketentuan Skill dan lain-lain, tetapi memang itu kondisi di kampung).

loading...
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Next »

Add a Comment