Empang Raksasa Itu Namanya Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Anak-anak sekolah yang mulai belajar bahwa sifat air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, pasti mengerti bagaimana proses terbentuknya sungai.

Yaitu ketika air tidak bisa terserap oleh tanah yang sudah jenuh, maka air mengalir daerah yang lebih rendah, bisa berhenti di empang atau sampai ke laut. Jadi kalau ada yang bergelar akademis tinggi tapi tidak mengerti mengapa sungai terbentuk (Baca), itu namanya kebangetan.

Sungai Itu Ciptaan Tuhan

Akibat gaya gravitasi maka aliran air seperti memilih ceruk yang paling rendah di tanah, sehingga terbentuklah sungai. Demikian seterusnya, kadang berkumpul sejenak di rawa atau empang, lalu melanjutkan perjalanan, sehingga sungai sampai ke lautan dimana aliran air berhenti dan berkumpul.

Selanjutnya terjadi siklus air, mulai dari penguapan yang membantuk awan dan terbawa angin laut ke gunung-gunung lalu menjadi hujan di gunung. Begitu juga sebaliknya, bila angin bergerak dari gunung, atau disebut angin gunung, membawa awan menuju ke laut dan hujan di lautan atau mungkin sudah tercurah sebelum sampai ke lautan.

Kalau kita membaca kitab-kitab suci, berbagai nama sungai cukup sering disebutkan, seperti sungai Nil, Efrat, Tigris dan sebagainya. Bahkan di beberapa kitab suci, diuraikan bahwa Tuhan sengaja menciptakan “sungai” agar air mengalir dan berkumpul di tempat yang rendah, sehingga terbentuklah daratan-daratan kering.

Bahkan di Taman Eden terdapat sungai yang mengalir melaluinya. Tapi saya tidak tahu apakah ada empang di Taman Eden.

loading...
Ini laut bukan Empang
Laut, Tujuan Akhir Aliran Sungai Secara Alamiah

Air Secara Alamiah Mencari Dataran Rendah

Dengan demikian, air sungai mengalir dari gunung ke laut adalah hal yang alamih. Apapun yang dilakukan kalau tanah di daerah yang lebih tinggi mengalami kejenuhan air, maka air akan mengalir pergi ke tempat yang rendah.

Ketika air sungai mengalir ke laut dan menemukan dataran, atau ceruk, maka mereka akan berkumpul di sana, membantuk empang, embung, rawa bahkan danau. Selanjutnya ketika empang, embung, rawa dan danau tersebut penuh, maka air akan melanjutkan perjalanannya.

Air yang tergenang dan terkumpul di Empang, embung, rawa atau danau, karena tidak dapat terserap oleh tanah. Atau terserap sangat sedikit sekali, dibandingkan dengan jumlah air sungai yang masuk. Hukum jumlah masuk = jumlah keluar berlaku di sini, dan mengalirnya air melanjutkan perjalanannya adalah hal yang alamiah.

Tidak Bisa Dilawan Manusia

Oleh karena itu, ketika manusia mencoba melawan alam dengan membuat dam atau bendungan, manusia harus memastikan dam atau bendungan tersebut mampu menahan debit air yang ditampung. Apabila tidak maka bisa setiap saat jebol dan menimbulkan bencana.

Dengan demikian, kecuali ada keperluan lain, seperti irigasi, pengendalian debit air (ingat “pengendalian” bukan pencegahan) dan pemutar turbin pembangkit listrik, maka pembuatan dam atau bendungan lebih baik dihindari.

Air akan melanjutkan terus perjalannya ke tempat yang lebih rendah, baik melalui resapan tanah, resapan di empang atau melalui sungai. Dan akan muncul di daerah yang  yang paling rendah yaitu lautan.

loading...

Akan tetapi apabila mereka menemukan daerah yang rendah sebelum sampai di lautan, maka air akan berhenti dan berkumpul di sana. Seperti berkumpul di Jakarta. Kota yang jaman dahulu sebagian besar areanya adalah empang dan rawa. Namun menjadi daratan karena ketamakan manusia, yang menganggap dirinya bisa memanipulasi alam. Pasti secara alamiah lambat laun akan kembali, menjadi tempat penampungan (rawa dan empang), kalau tidak terus menerus dimanipulasi.

Percepat Mengalir ke Laut

Manipulasi yang utama adalah membuat saluran-saluran air menuju ke laut, yang harus didukung dengan pompa-pompa raksasa. Pembuatan dam di sekitar Jakarta juga akan membantu mencegah air laut masuk karena banjir rob.

Setelah semua saluran dibangun dan pompa dipasang, maka harus dipastikan bahwa semua fasilitas tersebut terawat dengan baik dan siap digunakan setiap saat.

Suatu kebodohan yang sangat memalukan, ketika pompa dan saluran air yang dibangun dengan biaya yang sangat mahal, ternyata tidak mampu mengalirkan air ke laut, dan tetap membuat jakarta menjadi empang.

Apakah Peralatan Selalu Dites?

Tidak ada alasan untuk mengabaikan hal itu. Bila ada yang mengatakan perawatan termasuk kebersihan sudah dilakukan, tetapi tidak berjalan dengan baik, maka ia berbohong. Karena perawatan harus meliputi juga testing, hingga bila diperlukan test beban. Jadi kalau prosedur perawatan hingga test sudah dilakukan dengan baik, sangat kecil kemungkinannya gagal.

Apabila semua fasilitas dan infrastruktur untuk mengalirkan air dengan cepat ke laut tidak terawat dengan baik, maka warga Jakarta sudah sepantasnya untuk membiasakan diri hidup bersama dengan banjir. Karena secara struktur Jakarta memang daerah yang rendah tempat air berkumpul (bisa disebut empang) yang sangat ideal bagi air, karena areanya yang sangat luas. 

Baca: Catat Kinerjanya Yang Buruk

Memang Benar Genangan Bukan Banjir!

Siap-siap menghadapi banjir? Bukan, itu bukan banjir, karena kalau banjir berarti air yang keluar dari aliran alamiahnya. Jadi karena rendahnya Jakarta, maka memang tugas kota Jakarta menampung air menjadi empang, apalagi tidak memiliki kesiapan yang memadai untuk mengantarkan air ke laut dengan cepat.

Jadi warga Jakarta anda tidak perlu siap-siap menghadapi banjir, tapi bersiap-siaplah selalu untuk dikunjungi oleh air yang sedang melakukan perjalanan ke laut. 

Bukan Waspada, Tapi Rutin Menyambut Genangan Datang

Persiapan harus lengkap menyangkut sandang, pangan serta papan, dan semua itu harus dipastikan kesehatannya:

loading...
  1. Sandang dan pangan secara khusus anda masukan ke dalam kotak plastik yang bebas bocor (bukan koper)
  2. Pastikan cukup untuk minimal 3 (tiga) hari dan periksa apakah kedaluwarsa atau tidak
  3. Perlengkapan lampu emergency, senter dan batery yang cukup juga anda masukan ke kotak plastik tersebut
  4. Pastikan anda sudah memiliki area tertentu bila sang air datang berkunjung, memiliki tenda camping juga sangat membantu
  5. Barang-barang berharga yang anda miliki lebih baik disimpan di brankas bank (pastikan brankasnya bebas banjir)
  6. Buat rumah anda bertingkat, sehingga semua perabot dan pealatan elektronik diletakan di tingkat atas, lantai bawah berisi perabot yang terbuat dari plastik saja, atau kayu yang tahan air. Jangan besi atau aluminium karena air sungai bersifat krorosif
  7. Pastikan terdapat penerangan yang dapat diisi ulang dengan tenaga matahari
  8. Buat garasi di lantai atas, sehingga kendaraan anda jauh dari air genangan yang sedang berkunjung. Atau sewa garasi di tempat lain yang bebas banjir
  9. Buat beberapa metode pencegahan untuk memastikan biantang-binatang melata dan berbisa tidak masuk dan bersemayam di rumah anda. Untuk ini saya tidak punya ide bagaimana caranya, karena secara naluri ular, biawak dan semua binatang mencari tempat yang lebih tinggi dari genangan air.
  10. Siapkan stok disinfektan, karena kalau membeli saat rumah dan dareah sekitar tergenang, pasti malah harganya. 
  11. Dan lain sebagainya.

Penduduk Jakarta Harus Siap Ribet

Banyak sekali yang harus disiapkan, jadi sangat merepotkan. Oleh karena itu pilihan tetangga saya yang pindah dari Cempaka Putih, dengan menjual rumahnya setengah harga, rasanya adalah pilihan yang tepat.

Mengeluh kepada pemda setempat? rasanya keluhan anda hanya di dengar dan ditampung. Mereka juga bingung mau melakukan apa, sehingga mereka akan mempersiapkan lusinan kata-kata penghiburan, agar anda terbuai dan diam.

Dengan demikian warga Jakarta yang realistis tahu bahwa mereka tidak perlu lagi waspada banjir, karena mereka sudah siap menghadapi genangan air yang secara alamiah menyukai Jakarta sebagai tempat penampungan air yang luas banget.

Jangan Mengeluh Terima Saja

Jangan mengeluh atau mencerca siapapun, anda yang memilih untuk tinggal di Jakarta maka anda harus gentleman dan siap menghadapinya. Take it for granted guys, karena anda memang tinggal di daerah rendah yang layak menjadi empang raksasa. 

Tanpa ada upaya nyata untuk mengeringkan empang itu, baik dengan pompa dan pencegahan air sungai masuk ke Jakarta, pasti air akan menggenang. Menggenang layaknya empang.

Kalau anda ingin Jakarta berubah menjadi lebih nyaman karena berkurangnya air genangan, karena semua infrastruktur yang mengalirkan air terawat dan bekerja dengan baik, maka bersama-sama dengan warga Jakarta lainnya carilah cara untuk berubah. Salah satunya anda bisa memilih saya menjadi gubernur DKI Jakarta berikutnya, dijamin empang itu akan kering. Hahaha bukan kampanye ya apalagi saya orang Jawa Barat, males ah ganti KTP DKI. 

Semoga semua penduduk Jakarta tetap dalam keadaan sehat. 

Tulisan ini saya muat jugad di Kompasiana dengan judul yang sama (baca)

Have a nice day.

Add a Comment