CARI PANGGUNG

Surat terbuka di hari Kelahiran Pancasila untuk sang pencari panggung:

Hallo yang ada di sana, ya kamu, kamu… Kamu yang sekarang sedang cari panggung. Apa kamu tidak punya malu? Ya malu…atau memang sudah tidak ada tuh malunya kamu?

Ya kamu sangat norak, ngomong sembarangan tanpa data yang tujuannya saya lihat hanya membuat orang jadi resah. Ya resah karena mereka jadi bingung, mau tidak percaya tapi kamu yang ngomong, sementara mereka yang resah merasa kamu itu orang yang berjasa.

Dan mereka yang resah melihat kamu yang sudah tua itu pasti tidak akan berbohong, karena umurmu kan sudah tinggal beberapa waktu lagi. Jadi menurut logika mereka: kamu gak mungkin dong asal omong, nanti masuk neraka, masak sih kamu mau mengorbankan jiwa mu untuk masuk neraka dengan asal ngomong bahkan berbohong?

loading...

Dan sepertinya kamu menikmati kegusaran sebagian orang, apalagi para antek-antekmu yang sangat menikmati kegalauan itu, walau sedikit jumlahnya tapi antek-antek kamu itu orang yang suka teriak-teriak, gak punya malu dan asal kelihatan rame aja.

Akibatnya orang-orang yang berkelas, baik pendidikan dan tingkat sosialnya malu berdebat atau berargumentasi dengan orang-orang seperti itu, buang-buang waktu doang. Antek-antek kamu adalah para oportunis jadi tidak aneh mereka seperti itu, aji mumpung, siapa tahu keciparatan untung.

Kalau saya dan sebagian besar penduduk Indonesia sama sekali tidak termakan oleh kata-kata kamu, karena kami semua tahu siapa kamu. Bagi kami kamu dulu hanya seorang yang kebetulan dapat kesempatan naik panggung, kesempatan naik panggung saat para mahasiswa yang bergerak bersama pemuda-pemuda idealis lainnya, ditembaki atau diculik oleh si MAWAR, mati atau hilang tak tahu rimbanya sampai saat ini.

Ya kami tahu! dan selalu ingat sebenarnya siapa yang berjasa saat reformasi, tetapi yang jelas bukan kamu! Waktu itu, tak setitik darahpun mengalir dari dagingmu, tak sebongkah lumpurpun melekat dikulitmu!

loading...

Melalui surat terbuka ini saya ingin mengingatkan kamu: waktu kamu di dunia ini tinggal sedikit, bangsa Indonesia sedang berusaha bangkit setelah puluhan tahun akhirnya memperoleh presiden yang mau kerja, bukan presiden yang seperti raja.

Bukan presiden yang menjadikan anak-anaknya pangeran, tetapi presiden yang berusaha mengangkat harkat dan martabat seluruh bangsa Indonesia yang selama ini tidak pernah digubris oleh penguasa, hanya diberi subsidi dan dicekoki sumbangan tunai dan dibiarkan terus bodoh.

Karena waktu kamu yang cuma sedikit itu, ayo sadar dan insaflah, jadilah orangtua yang menenangkan bangsa ini. Jadilah orangtua yang terus mendoakan bangsa Indonesia agar maju dan makin sejahtera, jadilah orangtua yang bijaksana karena mendengar langsung kata-kata dari TUHAN bukan dari manusia para politikus,

Janganlah hanya menjadi orangtua yang berkata-kata menuai kontroversi dan curiga, apalagi orangtua yang suka mengganggu orang yang sedang bekerja!

sadarlah, dan ingatkan pula anak-anak anda, bahwa pada waktunya nanti TUHAN hanya menerima orang yang bersih hati dan pikirannya.

Semoga bermanfaat dan menyadarkan seluruh bangsa Indonesia!
GBU
@shtobing

loading...

Add a Comment