Awas Spekulan Beraksi!

Hallo para pembaca, anda tahu siapa itu spekulan yang saya maksudkan di sini? Yaitu semua orang yang mencari keuntungan dengan cara berspekulasi, mereka nekat melakukan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan yang belum tentu mereka dapat.

Mereka berani melakukan hal itu karena belajar dari sejarah dan pengalaman para spekulan lainnya.

Spekulan Dimanapun Tujuannya Untung

Walaupun ada kata “mencari keuntungan” para spekulan di sini tidak hanya bergerak di bidang keuangan saja, mereka juga bergerak di bidang yang lain, tentunya ujung-ujungnya adalah uang juga.

Seperti para politikus busuk, mereka berani menanamkan modal yang besar untuk memperoleh posisi.

Kita sering mendengar bagaimana setelah Pemilu atau Pilkada, ada politikus yang gulung tikar karena terjerat hutang.

Bahkan ada beberapa yang perlu perawatan psikiater, atau paling tidak psikolog, untuk menenangkan jiwa mereka yang goncang.

loading...
Ini bukan virus Corona!

Berdasarkan hasil pengamatan saya baik dari membaca buku dan beberapa komentar dan analisa di Media, orang-orang yang jadi sakit karena spekulasinya gagal adalah spekulan bodoh, spekulan yang mungkin ditipu oleh spekulan lain yang sudah berpengalaman.

Mereka hanya korban yang mungkin hingga saat ini tidak menyadari bahwa mereka sudah ditipu.

Biasanya karena mereka tidak mau belajar dari pengalaman para spekulan lainnya.

Para spekulan yang “berhasil” selalu memperhitungkan risiko yang akan mereka hadapi.

Mereka memperhitungkan, bahkan apabila mungkin membuat skenario-skenario agar peluang spekulasi mereka lebih besar berhasilnya daripada gagalnya, hasilnya jelas: “untung”.

Spekulan Kompak Menggiring Opini Menggoyang Market

Spekulan tahu bahwa untuk berhasil mereka harus bekerja sama dengan spekulan lainnya, sehingga skenario yang dibangun akan membuat spekulasi mereka berhasil.

loading...

Salah satu skenario yang mereka “goreng” adalah membuat orang-orang menjadi bingung, curiga kepada siapa saja dan ketakutan serta panik, sehingga melakukan hal-hal yang para spekulan harapkan dilakukan oleh “korban”.

Saya sebut korban, karena para spekulan mengharapkan kepanikan membuat orang-orang itu melakukan hal-hal yang tidak rasional dan mengorbankan segala hal, yang selanjutnya akan menjadi keuntungan bagi para spekulan.

Untuk itu saya menulis analisa dan himbauan saya ini, supaya anda tidak menjadi korban para spekulan.

Rupiah tembus Rp.16.000,-? Tenang saja,
jangan tergoncang para spekulan sehingga
intervensi market dan cadangan devisa dilepas.
loading...

Apalagi pada kondisi sekarang ini, di mana semua negera goncang dan sangat banyak usaha yang tidak bisa dijalankan, yang pasti menimbulkan kerugian para pengusaha.

Para spekulan, saya yakin, saat ini sedang membuat dan menjalankan berbagai skenario, dan mereka secara langsung atau tidak, berkomunikasi dengan para spekulan lainnya.

Mereka memang tidak harus berkomunikasi verbal dengan sesama spekulan, karena mereka semua sudah tahu pola-pola spekulasi yang sedang dilakukan spekulan lain.

Lihatlah pasar modal yang anjlok sangat tajam, pasar uang begitu juga, dan tentunya diikuti oleh Bond dan Reksadana.

Covid19 Menjadi Materi Penggoyang Market Yang Efektif

Selain di bidang keuangan, anda bisa lihat berapa banyak politikus busuk di Indonesia dan negara lain, yang sedang menggoreng berita korban Corona Covid-19, untuk menyudutkan pemerintah yang sedang pusing menghadapi pandemi Covid-19.

Kita semua tahu bahwa pemerintah di berbagai negara perlu mengeluarkan uang yang sangat besar untuk menghadapi pandemi ini.

Beberapa negara, negara bagian, propinsi dan kota juga ditutup sementara (temporary lockdown) dan bisnis lumpuh sehingga kerugian pasti besar.

loading...

Tempat-tempat wisata juga ditutup sementara. Bisa dibayangkan berapa besar devisa yang hilang.

Berapa besar yang dialami perusahaan-perusahaan dan perorangan karena kehilangan pemasukan. Tetapi kita juga tahu bahwa ini bukanlah kiamat!

Peristiwa pandemi saat ini bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia, dan tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun pasti pandemi Covid-19 dapat dikendalikan, kita bisa lihat beberapa negara sudah menunjukan pemulihan.

Tapi para spekulan pasti terus menggoreng berita agar kita semua percaya bahwa kiamat sudah datang, sehingga ketakutan dan panik yang berujung melakukan hal-hal yang tidak rasional.

Selanjutnya para spekulan akan berjaya dan kaya raya (spekulan di bidang keuangan) atau memiliki posisi yang lebih baik (politikus busuk).

Politikus busuk jelas keuntungannya adalah elektabilitas pemerintah turun, dan mereka memiliki peluang lebih besar untuk berkuasa di kemudian hari.

Pasar Pulih Mereka Pasti Untung

Sedangkan spekulan di bidang keuangan, mencari keuntungan dengan contoh sederhana seperti di bawah ini.

Misalnya di pasar saham A yang secara fundamental ada di harga Rp.5.000,- per lembar saham, dengan harga pasar di Januari Rp. 7.000,-, tahapan perkembangan yang diskenariokan :

  • Januari harga saham A masih Rp. 7.000,- dan sang spekulan punya 1 juta lembar, ia menggoreng berita tentang perkembangan Covid-19 di negara lain dan impor-ekspor yang mulai terganggu
  • Februari harga saham A sudah turun menjadi Rp. 6.500,-, sang spekulan dengan spekulan-spekulan lainnya, melepaskan sebagian saham masing-masing, sebutlah 50%, sambil terus menggoreng berita di berbagai media, sehingga saham A semakin tertekan
  • Awal Maret dengan masuknya Covid-19 di Indonesia harga saham A turun tinggal Rp. 5.000,- dan para spekulan terus menekan pasar dengan melepaskan sisa saham mereka yang 50%, sehingga harga saham A semakin tertekan
  • Pertengahan Maret harga saham A turun tajam, bahkan beberapa kali disuspend karena penurunannya terlalu besar dari kebijakan pasar saham Indonesia,
    • tetapi karena kepanikan pasar saham A terus turun ke Rp. 3.000,-
    • Di sini para spekulan mulai masuk lagi, tetapi bertujuan untuk bisa membuat pasar goyah, yaitu melepas saham A lagi ke pasar supaya turun serendah mungkin, misalnya Rp. 2.500,- dan dengan analisa bahwa fundamentalnya adalah Rp. 5.000,- per saham maka sang spekulan sudah membayangkan keuntungan yang berlipat pada saat pandemi pulih kelak.
  • Sebutlah ketika di harga Rp. 2.500,- sang spekulan membeli 2.000.000 lembar saham A, dan ketika pasar pulih serta saham A kembali ke harga fundamentalnya di Rp.5.000,- maka sang spekulan sudah untung 30% dibandingkan nilai saham dia di awal (1.000.000 lembar @Rp.7.000,-).
    • Silahkan anda hitung sendiri dengan menggunakan excel.

Anda bisa bayangkan kenapa para spekulan beranai melakukannya?

Uang Tidak Dibawa Mati

Karena mereka merencanakannya dengan baik, dan banyak orang-orang yang mudah dibuat panik, sehingga melepas saham serendah mungkin demi memegang cash.

Saat ini berbagai instrument investasi saya, baik reksadana dan saham, sedang berada pada -40% (minus 40%).

Tetapi karena perhitungan saya di atas, saya tidak mau jadi korban spekulan, maka saya tidak melepas dan mengumpulkan cash.

Bahkan kemarin saya sempat membeli saham yang menurut perhitungan saya sudah berada di 50% dari fundamentalnya.

“Selain itu pertimbangan saya: kalau pandemi ini mengakibatkan kiamat untuk apa saya pegang cash? Emangnya cash bisa dibawa keakhirat?” 🙂

Risiko investasi memang sangat sulit dikendalikan karena banyaknya spekulan yang bermain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuat kita tidak mudah ketakutan dan panik, sehingga para spekulan dan politikus busuk leluasa menjalankan skenario mereka dan memperoleh keuntungan.

God bless you, God bless Indonesia.

@shtobing

Add a Comment