INSPIRASI: MELAYANI SEBAGAI PELAYAN

Hallo para pembaca sekalian, hari Sabtu lalu ada pembinaan Majelis dan Aktivis di gereja kami. Di awal acara ada sebuah tugas sederhana yang diberikan kepada kami, yaitu kami diminta menggambarkan apa itu pelayanan, pelayanan yang ditugaskan Tuhan Yesus kepada pengikutNya (orang Kristen tentunya), dalam bentuk sebuah gambar obyek tertentu (apa saja) dan kemudian kami diminta untuk menjelaskannya.

Kita rajin merawat tanaman dengan menyiraminya agar tetap hidup dan tumbuh

Pada awalnya karena dasar iman kristen adalah kasih, maka sebagaimana penggambaran kasih pada umumnya adalah “gambar hati” saya sempat terpikir untuk menggambarkan hati. Dan ketika saya sedang berpikir untuk mulai menggambar hati, teman-teman di sebelah kanan saya sudah menujukan gambarnya, dan kedua teman itu menggambarkan hati. Akibatnya saya mengurungkan niat untuk menggambarkan pelayanan dalam sebuah gambar hati. Padahal gambar hati mempermudah tugas saya, karena hati akan menggambarkan kasih, dan karena kasih itulah maka kami melayani. Dengan gambar hati kami juga dapat menjelaskan kesengguhan (hati) dalam melayani, bahkan bisa dikembangkan menjadi keteguhan (hati). Tetapi karena saya ingin membuat gambar lain maka akibatnya saya memerlukan waktu untuk berpikir lebih panjang, dan sudah hampir habis waktunya saya belum dapat menggambar benda tersebut.

Sekitar 2 (dua) menit menjelang waktu habis saya mendapat ide untuk menggambarkan apa saja dan mempersiapkan penjelasannya, sehingga saya segera menggambarkan ember untuk menyiram tanaman, lengkap dengan air yang mengucur dan seketika saya memperoleh ide untuk menjelaskan apa itu pelayanan melalui gambar saya (ember penyiram tanaman).

Pelayanan saya gambarkan sebagaimana kita merawat tanaman. Tanaman tidak pernah mengatakan terima kasih, bahkan sebenarnya mereka tidak bisa berkata-kata seperti kita manusia. Tanamanan tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk menunjukan terima kasih, misalnya menundukan daun dan batanganya, sebagaimana kita menundukan kepala sebagai bentuk terima kasih kepada seseorang. Bahkan sebenarnya tanaman tidak menunjukan, atau tidak meminta untuk dirawat, baik disirami maupun diberikan pupuk. Tetapi kita tetap merawat mereka, menyirami, memberikan pupuk bahkan membersihkan gulma dan semak yang mengganggu mereka.

Melayani sebagaimana kita merawat tanaman, kita hanya mengharapkan tanaman itu menjadi subur dan besar (baik berbunga atau berbuah tergantung jenis tanaman yang kita rawat). Kita akan sedih ketika tanaman itu terkena penyakit menjadi kurus dan mati. Kita akan berusaha melakukan berbagai upaya untuk membantu tanaman itu kembali sehat, bahkan bila perlu kita mengganti media tempat tanaman itu tumbuh. Dan selama ia masih sakit maka kita masih merasa sedih. Bahkan dalam merawat tanaman kita juga berdoa untuk mereka, kita berdoa dan memohon agar TUHAN memberkati upaya yang kita lakukan dalam merawat tanaman tersebut. Itulah pelayanan menurut saya dengan menggambarkan dalam bentuk “ember penyiram tanaman”.

Kebahagiaan kita kita peroleh ketika kita melakukan pelayanan, dan selanjutnya kebahagiaan kita semakin terasa ketika kita melihat orang yang kita layani bahagia (walau tanpa kata-kata ataupun tindakan kepada kita), dan kita semakin bahagia ketika kita sadar bahwa pelayanan yang kita lakukan adalah apa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita. Kebahagiaan itulah yang seharusnya kita sebagai pelayan-pelayan TUHAN rasakan, sehingga kita terus melayani walaupun begitu banyak tantangan di luar sana. Selamat melayani dengan penuh semangat saudaraku.

God bless you, god bless Indonesia.

@shtobing

Add a Comment

Show Buttons
Hide Buttons