PEMBUNUH INOVASI: NON-VISIONER JUDGEMENT

Hallo yang ada di sana, berikut lanjutan tulisan saya tentang Pembunuh Inovasi http://www.hallothere.net/?p=5327 dan Pembunuh Inovasi: Asumsi/Tuduhan Ngawur http://www.hallothere.net/?p=5342

Kali ini saya akan memberikan contoh-contoh bagaimana orang-orang yang non-visioner atau non-inovator bisa membunuh inovasi di perusahaan anda. Pembunuh inovasi seperti ini bila jabatannya tinggi bisa sangat bermasalah, apalagi kalau dia dipercaya untuk melakukan evaluasi atas ide/inisiatif inovasi yang diajukan oleh karyawan.

Apa yang membunuh inovasi? Seperti pembunuh berdarah dingin terkejam di dunia, yaitu: manusia!

Non-Visoner bisa menjadi masalah, karena mereka tidak bisa membayangkan seperti apa masa depan dari sebuah rencana inovasi yang diajukan, mereka terlalu biasa berpikiran negatif sehingga mereka skeptis atas banyak hal, bahkan mereka takut apabila inovasi tersebut gagal dan merusak nama baiknya. Sehingga mereka dengan alasan berpikiran realistis dan melihat realita, mereka memilih aman dengan ide-ide inovasi kecil yang bisa dijalankan dalam jangka pendek saja, dan kalau gagal tidak berdampak kepada nama baiknya. Mereka tidak bisa membayangkan big picture atas sebuah ide, sehingga mereka mengabaikan bahkan membantah mentah-mentah visi jangka panjang sang inovator yang memiliki ide inovasi.

Orang yang ditugaskan mengelola inovasi namun dia bukan seorang visioner, akan mengakibatkan geliat inovasi di perusahaan anda sangat rendah dan tidak berkualitas, karena ia akan menjadi batu sandungan bagi setiap orang visioner di tempat anda, dan menurunkan semangat setiap orang yang ingin berinovasi.

Seorang Non-Visoner tidak berani terbang tinggi membayangkan masa depan yang indah dari sebuah ide Inovasi, baginya segala sesuatu harus realistis dan membuatnya nyaman. Baginya semua visi jangka panjang adalah khayalan semata.

Saya pernah mengalami saat dimana team saya frustasi membuat inovasi dan diperlombakan. Saat itu saya sangat heran mengapa team saya itu apatis, padahal dia memiliki ide yang banyak, dari berbagai improvement terkait perbaikan proses hingga beberapa inovasi yang melibatkan teknologi.

Karena waktu itu saya baru menjabat di fungsi tersebut, maka pelan-pelan saya coba menggali apa penyebabnya mereka begitu apatis, ternyata jawabnya adalah: team yang mengevaluasi selalu mengejar benefit yang diperoleh dari ide inovasi haruslah besar, harus bisa dihitung dalam nilai uang dan sebisa mungkin nilainya minimal ratusan juta. Sementara team saya tersebut bukan orang yang suka menghitung nilai penghematan kalau belum pernah dialami langsung.

Misalnya, dia bisa menghitung benefit inovasi sehingga sebuah pekerjaan yang selama ini dikerjakan 5 hari menjadi tinggal 3 hari, tetapi dia tidak suka menghitung benefit yang masih berupa ide, belum dialami secara langsung, contohnya akibat penghematan 2 hari dalam seminggu setara dengan 1/3 Man Power, sehingga kalau dikonversi ke gaji (contohnya setara dengan seorang karyawan yang bergaji Rp. 120 juta setahun) maka benefitnya adalah Rp. 40 juta, karena menurut dia (team saya ini) benefit yang didapat itu lebih tepat adalah: “membuat dia bisa mengerjakan pekerjaan lebih banyak lagi jadi aneh kalau dikonversi ke gaji”.

Contoh lainnya adalah ketika team saya punya ide sebuah “dashboard” yang langsung didrop oleh PIC inovasi karena menurutnya “sudah terlalu banyak dashboard dan dashboard bukanlah sebuah inovasi”. Karyawan yang melakukan seleksi berpikiran sempit dan melihat sebuah dashboard sebatas dashboard yang ia ketahui, ia tidak bisa membayangkan bahwa dashboard itu tidak selalu sederhana, misalnya dashboard pesawat terbang itu sangat berbeda dengan dashboard mobil.

Seorang Non-Visioner biasanya hanya melihat jangka pendek dan pandangannya sempit, sehingga apabila ada sebuah ide yang disajikan dengan buruk oleh seorang inovator, maka langsung didrop, padahal bisa jadi karena kemampuan sang inovator yang tidak bisa menjelaskan dengan baik, padahal bisa jadi bila yang melihat adalah orang Visioner akan terlihat indahnya masa depan ide inovasi yang diajukan tersebut.

Itu beberapa contoh sederhana yang saya temui ketika orang yang ditugaskan untuk melakukan seleksi inovasi adalah Non-Visioner, bukan seorang visioner atau bukan seorang inovator. Ia akan membuat geliat inovasi di tempat anda mati, atau kalau hidup hanya sekedar menunjukan ada kegiatan inovasi di perusahaan anda.

Saya sarankan kepada anda pemilik perusahaan atau penanggung jawab perusahaan, tugaskan seorang Visioner atau seorang inovator untuk menjadi team penilai ide-ide inovasi, dia harus mampu melihat masa depan inovasi yang diajukan, dan dia mampu mendorong orang yang memiliki ide inovasi untuk terus memperbaiki inovasi tersebut menjadi semakin baik, dan akhirnya adalah keuntungan bagi perusahaan.

Semoga bermanfaat. God bless you, God bless Indonesia

@shtobing

Add a Comment

Show Buttons
Hide Buttons