BERAGAMA TAPI TIDAK MENGHARGAI NYAWA!

Hallo para pembaca sekalian, judul di atas melanjutkan tulisan saya tentang tragedi kecelakaan kapal yang baru-baru ini terjadi di Danau Toba (Pastikan Seaworthy agar Selamat). Tragedi yang menurut data kemarin malam sudah mencapai 160 orang meninggal atau hilang, mungkin akan bertambah lagi baik korban meninggal maupun hilang. Kecelakaan karena ketidaklayakab kondisi kapal itu menurut saya adalah akibat suatu kelalaian yang fatal, emngakibatkan korban jiwa. Sifat lalai seperti itu adalah tanda tidak menghargai nyawa orang lain sebagaimana yang saya tuliskan berikut ini:

Tidak menghargai nyawa sebenarnya adalah sikap orang tidak beragama, contoh yang paling mudah adalah bangsa primitif yang suka membunuh dan makan daging manusia karena mereka tidak beragama, atau paling tidak mereka tidak diajarkan bahwa membunuh apalagi memakan manusia adalah perbuatan dosa dan dikutuk TUHAN, sebagaimana yang diajarkan pada orang-orang yang beragama. Bahkan semua orang beragama diajarkan untuk menjaga atau melindungi nyawa orang, baik keluarganya maupun orang lain. Melindungi termasuk juga menyelamatkan orang sakit atau menjauhkan orang dari bahaya!

Sebagian besar orang Indonesia adalah beragama, bahkan sangat jarang orang yang mengaku tidak beragama. Mungkin ada orang-orang yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, akan tetapi untuk menghindari “diskriminasi” maka mereka mengaku beragama. Oleh karena itu menurut saya hampir semua orang Indonesia menghargai nyawa orang, saya yakin para pembaca setuju dengan saya.

Akan tetapi melihat begitu banyak kelalaian yang membahayakan nyawa orang lain membuat saya bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar beragama atau tidak beragama?

Mari kita lihat selain kecelakaan kapal di Danau Toba, yang menurut dugaan saya karena kapal sebenarnya dalam kondisi tidak layak untuk berlayar (unseaworthy), baik karena dugaan overload atau cuaca buruk (silahkan cek kasus seperti ini banyak terjadi di Indonesia), kita bisa lihat banyak sekali pengabaian-pengabaian atas keselamatan nyawa orang:

Jorr, jam 6-7 pagi

1. Kendaraan dikemudikan dengan ugal-ugalan, baik di dalam kota maupun antar kota, sehingga menabrak orang di pinggir jalan
2. Kendaraan yang tidak terawat baik tetapi dipaksakan jalan sehingga kecelakaan karena rem blong, atau tidak mampu menanjak sehingga masuk jurang
3. Bangunanan termasuk Jembatan yang tidak kuat menahan beban, sehingga roboh dan menimbulkan korban jiwa
4. Orangtua yang membiarkan anaknya (yang belum cukup umur) mengendarai sepeda motor, atau berboncengan hingga lebih dari yang diijinkan
5. Tidak peduli pada aturan lalu lintas, sehingga mengendarai motor tanpa helm, padahal helm itu melindungi diri sendiri
6. Menggunakan kendaraan tidak sesuai fungsinya dan mengangkut berlebihan, sehingga kendaraan tidak mampu berjalan dengan baik
7. Bercanda-canda, menggunakan telpon bahkan mengirim sms saat mengendarai kendaraan sehingga mencelakai diri sendiri dan orang lain
8. Tidak perduli pada kesehatan kerja termasuk lingkungan, buang sampah sembarangan hingga mengakibatkan penyakit bahkan banjir
9. Membangun rumah di atas atau di bawah lereng-lereng yang gampang longsor
10. Lebih mengutamakan membeli rokok daripada makanan sehat, bahkan tidak perduli asapnya meracuni diri sendiri dan anak sendiri (apalagi orang lain). Ingat perokok yang meninggal dunia karena penyakit yang ditimbulkan dari merokok itu sama dengan bunuh diri.
11. Dan banyak lagi silahkan anda tambahkan

Baca: Mau Cepat Malah Dirawat

Contoh-contoh di atas, dan masih banyak lagi, itulah yang membuat saya bertanya-tanya apakah benar orang-orang yang bertanggungjawab atas terjadinya kecelakaan, penyakit dan peristiwa tragis lainnya, benar-benar orang beragama atau hanya KTPnya saja yang menulis dia beragama. Karena orang-orang itu sepertinya tidak perduli atas keselamatan orang lain (bahkan dirinya sendiri).

Bagaimana kalau mencelakai orang lain juga?

Mungkin sebagian anda tidak setuju karena biasanya setelah terjadi tragedi yang mengakibatkan korban jiwa, sebagian besar orang Indonesia berkata: ya itu sudah takdir dari TUHAN, sudah waktunya mereka dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, bahkan ada upacara-upacara agama mengantarkan jenasah ke pemakaman (atau kremasi), jadi mereka jelas beragama. Saya setuju dengan pandangan itu, sedangkan yang saya pertanyakan apakah benar-benar beragama adalah orang-orang yang bertanggungjawab (dan sebenarnya bisa mencegah suatu kecelakaan) tetapi tidak perduli sama sekali, sehingga mengakibatkan korban mati atau korban sakit.

Oleh karena itu bagi anda atau saudara atau teman anda, mari sebagai orang beragama kita mengingat bahwa TUHAN sangat menghargai nyawa manusia, IA tidak ingin manusia menjadi sakit apalagi mati, sehingga di dalam setiap aktivitas kita marilah kita menjaga keselamatan diri sendiri maupun orang lain! Bagi anda yang bertugas sebagai penegak hukum, mari tegakan hukum dan tindak tegas semua pelanggaran yang bisa membahayakan nyawa manusia! Kalau anda tidak melakukan itu, jangan tersinggung kalau saya tuduh anda TIDAK BERAGAMA!

Baca juga: Umat Kristen, kalau hanya ke Gereja saja itu belum beribadah loh…!

Semoga bermanfaat menyadarkan kita semua untuk menghargai nyawa manusia!

Belasungkawa sedalamnya untuk Korban dan Keluarga yang ditinggalkan!

God Bless You, God Bless Indonesia
@shtobing

Add a Comment

Show Buttons
Hide Buttons